Join Multiply
Open a Free Shop
Sign In
Help
SEARCH
Marketplace
Clothing & Accessories
Shoes
Beauty & Health
Jewelry & Watches
Fragrances & Perfume
Kids
Baby & Toddler
Electronics & Cell Phones
Computers & Accessories
Movies, Music, Games & Books
Home & Garden
Collectibles & Art
Sports & Outdoors
Professional Services
Car Parts & Accessories
Everything Else
Hendry's Site
Home
Notes
Blog
Photos
Video
Music
Links
About Me
Nov 23, 2007
Tags:
alam penebas
,
tidak jelas
Tags:
alam penebas
,
tidak jelas
View Profile
Notes
Antara Abdurrahman Wahid, Amin Rais, dan Hilmi Aminuddin Selasa, 22/06/2010 13:06 WIB | email | print | share Ketika Abdurrahman Wahid meninggal banyak orang Cina dan Kristen yang menangis. Mereka benar-benar merasa kehilangan. Tokoh Nahdiyyin dan PKB, yang pernah menjadi presiden itu, dikenang sebagai ‘bapak pluralisme’ di Indonesia, dan mengubah nasib golongan minoritas yang merasa lebih ‘equal’ diantara golongan-golongan yang ada. Maka, ketika Abdurrahman Wahid meninggal banyak yang takut tidak ada lagi yang melanjutkan warisannya, berupa paham pluralisme. Karena perhatiannya kepada golongan dan agama minoritas yang begitu lekat, Abdurrahman Wahid, bukan hanya mendapatkan pengakuan di dalam negeri, tetapi tokoh ini, sampai mendapatkan medali penghargaan dari kalangan tokoh-tokoh Yahudi terkemuka di Amerika Serikat. Kira-kira bulan Mei 2008, Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah (isterinya), diundang ke Amerika Serikat oleh lembaga Shimon Wiesental Center (SWC), untuk menerima Medali of Velor (medali keberanian), atas jasa-jasa Abdurrahman Wahid, yang telah gigih mengembangkan paham pluralisme di Indonesia. Ketika berlangsung di acara penyerahan Medal of Velor itu, Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriah didampingi oleh sebagian besar tokoh-tokoh Yahudi di Amerika Serikat, seperti Holland Taylor (CEO Lib For All), dan Rabbi Marvin Hier (pendiri SWC), dan menurut Majalah News Week, ia merupakan Rabbi paling berpengaruh di Amerika Serikat. Tentu, ba’da reformasi dan berakhirnya rejim Soeahrto, dan datangnya kebebasan, lahirlah partai-partai politik. Di zaman Soeharto partai politik dibatasi, dan hanya ada tiga partai politik, Golkar, PPP, dan PDI. Tetapi, partai-partai politik di era Soeharto itu, hanyalah sebagai etalase sebuah ‘bunga’ demokrasi, yang bernama partai politik. Tetapi, peran mereka dibatasi, dan hanya Golkar yang boleh eksis, serta secara efektif menjadi alat legitimasi politik penguasa. Di era reformasi, Abdurrahman yang juga tokoh Nadhiyyin itu, mendirikan partai, yang dikenal sebagai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan menolak partai yang bercorak dan berideologi Islam. "Partai Islam itu eksklusif, dan tidak dapat menjadi wadah semua golongan", ucapnya. Asas dan tujuannya bercorak nasionalis, dan tidak bercirikan partai Islam. Cita-cita Abdurrahman Wahid, menginginkan agar PKB menjadi wadah semua golongan, bukan hanya golongan Islam, tetapi lebih bersifat pluralis dan inklusif. Memang sebuah ideologi baru, yang sekarang terus mereduksi pikiran-pikiran kalangan yang masih berorientasi kepada pandangan pemikiran Islam, yang berkaitan dengan politik, terus menyerang kalangan-kalangan yang masih menginginkan Islam sebagai landasan dalam berpolitik. Golongan yang masih menggunakan jargon dan idiom Islam, khususnya dalam berpolitik, dihadapkan pada stigmatisasi dengan garis keras, fundamentalis, dan eksklusif. Sehingga, para pemimpin dan tokoh Islam, mereka kedodoran dan menyerah, mengganti jalan dan garis perjuangan mereka menjadi sekuler. Abdurrahman Wahid, yang kemudian memimpin gerakan politik bernama PKB itu, maju dalam pemilu, tahun 1999, dan hanya mendapatkan suara 11,3 persen. Tidak sampai mencapai 15 persen. Ini hanyalah menggambarkan betatapun, ibaratnya sudah mengubah ‘fashion’ (dandanan) tetap saja tidak dapat menarik golongan non-muslim untuk memilih PKB. Tetapi, memang Abdurrahman Wahid, bernasib mujur dengan dukungan Amin Rais, yang menggalang ‘Poror Tengah’ berhasil mengangkat tokoh Nahdhiyyin itu menjadi Presiden, mengalahkan tokoh PDIP, Megawati Soekarno Putri. Tetapi, jabatan yang dipegang Abdurrahman Wahid, hanya seumur jagung, tak lama berkuasa, dan ditumbangkan dari kekuasaannya oleh gabungan partai-partai yang tidak nyaman dengan segala ulah Presiden Abdurrahman dengan ‘Brunei Gate’ dan ‘Bulog Gate’. Dan, kini suara PKB di pemilu 2009, lebih kecil lagi, hanyalah 5 persen. Lain halnya dengan tokoh reformasi Amien Rais, di awal reformasi mendirikan partai, yang tidak memakai ‘embel-embel’ Islam. Partai yang didirikannya lebih terbuka. Pengurusnya beraneka ragam golongan. Ada orang Kristen, Katholik, dan Budha. Semua menjadi skondan Amien, dan ikut menakhodai kapal yang baru di bentuk, yang diberi nama, ‘Partai Amanat Nasional’ (PAN). Amien Rais, yang kala awal reformasi memenuhi undangan Dr. Anwar Haryono, untuk memimpin Partai Bulan Bintang, tetapi Amin menolak memimpin partai baru, yang lebih bercorak Islam itu. Sebelumnya, Amien juga diajak oleh para aktivis dakwah, yang dipimpin Hilmi Aminuddin, untuk mendirikan partai baru, tetapi waktu itu Amien menolak. Bahkan, waktu itu kelangan aktivis dakwah , mengirim Abu Ridho dan Dr. Salim Segaf al-Jufri, mengajaknya mendirikan partai politik Islam, tetapi ia tetap menolak. Kalangan aktivis dakwah, melihat Amien Rais lebih cocok bagi mereka, karena desertasinya diambil di Mesir, tentang Ikhwan, tetapi sekali lagi Amien tetap menolak. Sebuah pandangan yang sangat khas dilontarkan oleh Amien, ketika menanggapi kalangan mantan eks Partai Masyumi, untuk mendirikan Partai Islam, mengatakan, “Partai Islam itu seperti baju, dan terlalu sempit buat diri saya,” ucap Amien. Sekalipun PAN sudah bercorak inklusif dan pluralis, tetapi suaranya di pemilu 1999, hanya lah 7,4 persen. Tidak sampai 10 persen. Inilah sebuah ironi. Orientasi suara (kuantitas) yang dikejar dalam rangka mendapatkan kekuasaan, dan melalui cara membuang jati dirinya, dan menolak menggunakan simbol dan prinsip Islam, kenyataannya tidak juga dapat mendapat menambah suara. Sekarang Amien menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN, dan menjadi lebih dekat dengan SBY, dan tidak kedengarannya lagi sikap kritisnya. Ketika berlangsung Pansus Bank Century, PAN di paripurna DPR memilih opsi A. Ternyata Amin sudah tidak lagi bergigi, dan yang menentukan adalah Hatta Rajasa, yang lebih dekat dengan SBY. Lain halnya, Hilmi Aminuddin, yang sebagai ‘the new comers’ dalam kehidupan politik nasional ini, dan mulai menggeliat sejak usai pemilu 2004. Sebelumnya tidak pernah kedengaran secara terbuka dalam kehidupan politik nasional. Karena di tahun 1999, gerakan dakwah, yang dibangun para aktivis dakwah itu, masih belum nampak pengaruhnya secara politik, karena baru didirikan dan hanya menadpatkan 7 kursi di parlemen, atau 1.5 persen. Peranannya belum begitu nampak. Tetapi, ketika partai yang awalnya menyatakan diri sebagai partai dakwah, sejak usai pemilu tahun 2004, mulai nampak peranannya. Terutama, sejak pemilihan presiden 2004, Hilmi sudah terlibat dalam ‘power games’ (permainan kekuasaan), dan dengan suara partai yang dulunya bernama PK dan menjadi PKS itu, mendapatkan suara 45 kursi atau setara dengan 7,5 persen suara, Hilmi merasa memiliki leverage (daya tawar) dengan kekuatan politik lainnya. Pemilu presiden 2004, Majelis Syuro PKS, memutuskan mencalonkan Amin Rais sebagai calon presiden. Sekalipun, keputusan ini tidak disetujui oleh Hilmi, dan ia memilih Jendral Wiranto. Tetapi, Amin gagal dan Wiranto pun gagal. Dan, tinggal Mega dan SBY. Selanjutnya, Majelis Syuro PKS mengambil posisi mendukung SBY, hingga kini. Semuanya tujuannya untuk memperbesar 'spear' (otot) politiknya di masa yang akan datang, menjelang pemilu 2014. Perlu tetap mendukung SBY sebagai payung politik, yang dapat mengayominya. Kemudian, dalam pemilihan presiden, SBY memenangkannya. Tentu, PKS masuk kabinet, dan ikut terlibat dalam pengelola kekuasaan, di mana dalam kabinet periode tahun 2004-2009, setidaknya ada tiga orang menteri dari PKS, yaitu Yusuf Ashari sebagai Menteri Perumahan, Adyaksa Dault sebagai Menteri Olahraga, dan Anton Aprianto sebagai Menteri Pertanian. Inilah hasil musyarakah (koalisi) atau dukungan politik kepada Presiden SBY. Sekarang periode kedua jabatan Presiden SBY, di mana PKS tetap konsisten mendukung SBY, dan dalam kabinet periode 2009-2014 ini, kader PKS yang masuk kabinet, seperti Suharna menjadi Menristek, Salim Segaf al-Jufir Menteri Sosial, Tifatul Sembiring Menkominfo, dan Suswono menjadi Menteri Pertanian. Tetapi, dibandingkan dari pemilu 1999 ke pemilu 2004, perolehan suara PKS mengalami peningkatan 600 persen. Sedangkan pemilu 2009 ini, suara PKS mengalami stagnan, tidak berubah secara signifikan, yaitu hanya 7,8 persen. Padahal, PKS sudah melakukan berbagai langkah akrobatik politik untuk memperbesar perolehan suaranya, dan isu menjadi partai terbuka, sudah dilontarkan saat Mukernas pertama di Bali tahun 2008. Pilihan Mukernas di Pulau Dewata, dan kunjungan elite PKS ke sejumlah tokoh Hindu Bali itu, tujuannya untuk menggambarkan kepada publik, bahwa PKS tidak eksklusif. Tetapi, tetap saja tidak dapat mendongkrak suara PKS. Bahkan waktu itu, sebagai ketua pemenangan pemilu 2009, adalah Anis Matta, gagal mendongkrak suara PKS secara signifikan. Di Jakarta suara PKS turun 31 persen dibandingkan dengan pemilu 2004. Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, membuat langkah seperti mengangkat dan memberi gelar pahlawan dan guru bangsa Soeharto, dan memberikan berbagai hadiah kepada anak para pahlawan, tetapi tetap saja suara PKS di pemilu 2009, tidak banyak berubah. Sekarang, PKS menyelenggarakan Munas kedua di Hotel The Ritz Carlton, dan Hilmi Aminuddin, selaku ketua Majelis Syuro, telah menegaskkan PKS sebagai partai terbuka, bagi semua golongan. Meninggalkan sikap eksklusif menjadi inklusif. Tidak lagi menjadi partai dakwah,yang dengan jargon, bersih, peduli, dan profesional. Tetapi, PKS menjadi partai terbuka yang diorientasikan bagi semua golongan. Abdurrahman Wahid, Amien Rais, dan Hilmi Aminuddin, dan dengan versinya masing-masing tidak lagi mengangkat prinsip-prinsip Islam menjadi tujuan dan cita-citanya dalam membangun negara ini. Takut dituduh sebagai kelompok yang eksklusif atau fundamentalis dan tidak mendapatkan dukungann politik dari kaum minoritas di Indonesia. Bahkan harus perlu mengundang Dubes AS Cameron Hume, di acara Munasnya. Di Indonesia, ternyata, baru Partai Masyumi, yang secara gigih berani memperjuangkan prinsip-prinsip Islam, bahkan mereka di Konstituante, memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Bukan Pancasila. Para pemimpin Masyumi itu, umumnya berpendidikan sekolah Belanda, dan mereka tidak berlatar belakang syariah, tetapi mereka ‘ all out’ berani memperjuangkan nilai-nilai Islam menjadi dasar negara. Mereka para pemimpin Masyumi hidup dengan sangat puritan, bersih, sangat bersahaja, tidak tergoda dengan kehidupan dunia. Ketika mereka meninggal tidak meninggalkan harta dan kekayaan yang melimpah. Natsir, Roem, Prawoto, Syafruddin Prawiranegara, Kasman, Sukiman, serta Isa Anshori, sangat bersaja. Dan, Masyumi tetap menjadi Partai Islam terbesar sepanjang sejarah politik Indonesia, sejak merdeka. Di pemilu 1955 mendapatkan suara 20 persen. Mereka bukan hanya menjadi pemimpin politik, tetapi mereka menjadi negarawan, yang sangat dihormati. Natsir, Roem, Syafrudin, Kasman, Prawoto, Sukiman, dan Isa Anshori, memberikan sumbangan bagi masa depan Indoensia sesudah kemerdekaan. Para pemimpin politik sekarang ini ibaratnya, seperti sudah kalah sebelum berperang. Mereka menyangka dengan mengubah subsantasi partainya menjadi partai terbuka, dengan meninggalkan dan menggibiri Islam, serta menjadi partai yang inklusif dan pluralis dapat menjadi partai besar? Faktanya secara empirik, teori itu sudah batal. PKB dan PAN menjadi partai kerdil, meskipun sudah dengan cara meninggalkan Islam. Mungkin nasib PKS tak akan jauh dari kedua partai itu. Mereka hanyalah berilusi. Menggapai kekuasaan dengan langkah-langkah yang penuh artifisial. Mestinya, langkah yang diambil tetap menyakini Islam, dan mengamalkan dengan penuh kesungguhan. Rakyat atau umat tidak hanya melihat 'jargon-jargon', atau permainan kata-kata yang mereka sampaikan lewat media-media, tetapi apakah para pemimpin partai itu sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan rakyat atau umat? Apakah mereka tipe pemimpin yang memiliki akhlak mulia, seperti jujur, amanah, dan tidak mementingkan diri mereka sendiri? Sehingga dapat menjadi suri tauladan. Atau hanya sekumpulan orang-orang yang ambisius dengan kekuasaan. Wallahu'alam. hmn. http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/antara-abdurrahman-wahid-amin-rais-dan-hilmi-aminuddin.htm
Disudut laut kemaut Badut termanggut-manggut kusut Memarut hasut beringsut-insut Berurut kemelut diusut mengerucut Salut siput kisut Menyambut sejumput rumput tersangkut Menyundut si gendut takut..
3D+1E Gerakan ekspansi kekuasaan kolonial bangsa Eropa meningkat secara intensif pada abad ke-19 dan berakhir pada periode menjelang pertengahan abad ke-20. Ekspansi kekuasaan kolonial pada abad ke-19 merupakan gerakan kolonialisme yang paling besar pengaruhnya dalam membawa dampak perubahan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan di negara-negara yang mengalami penjajahan. Dampak penting dari gerakan kolonialisme ialah timbulnya sistem kolonial dan situasi kolonial di negeri jajahan. Sistem kolonial dan situasi kolonial telah menciptakan hubungan kolonial antara pihak penguasa kolonial dan penduduk pribumi yang dikuasai dan antara pihak jajahan dan negara induknya (penjajah). Ciri pokok hubungan kolonial pada dasarnya berpangkal pada prinsip dominasi, eksploitasi, diskriminasi dan dependensi. Prinsip pertama, yaitu dominasi berpangkal pada doktrin kejayaan (glory), kekayaan (gold), dan penyebaran agama (gospel) yang merupakan prinsip kolonialisme kuno. Ciri terpenting bagi kolonialisme kuno ini, yaitu gerakan ekspedisi dan ekspansi kekuasaan territorial. Oleh sebab itu, penaklukan dan penguasaan rakyat bersama sumber ekonomi tanah jajahan menjadi menjadi tujuan utama. Proses sentralisasi kekuasaan politik kolonial sebagai perwujudan dominasi kolonial tercermin dari dominasi golongan minoritas yang memerintah terhadap golongan mayoritas yang terperintah. Dominasi minoritas-mayoritas ini mendasari pola hubungan superioritas-inferio
ritas antara pihak penguasa dan yang dikuasai dalam segala aspek kehidupan. Prinsip kedua, yaitu eksploitasi dan akumulasi sumber daya tanah jajahan dengan ciri ekstraksi tanah jajahan untuk kepentingan negara induk. Prinsip ketiga, yaitu diskriminasi pada ras atau etnis yang didasari oleh perspektif kolonial superioritas-inferio
ritas. Prinsip diskriminasi rasial dalam sistem kolonial ini menjadi dasar pembentukan struktur dan pola hubungan sosial dalam masyarakat kolonial yang secara hierarkis menempatkan golongan bangsa yang memerintah di puncak teratas dari struktur masyarakat tanah jajahan. Prinsip dominasi, eksploitasi dan diskriminasi menciptakan jurang perbedaan antara daerah dan pusat ataupun antara jajahan dan penjajah yang pada akhirnya melahirkan prinsip ketiga, yaitu Dependensi (ketergantungan). Hubungan dependensi antara pusat dan daerah ataupun antara jajahan dan penjajah mencangkup berbagai segi, seperti modal, teknologi, pengetahuan, keterampilan, organisasi dan kekuasaan. Hubungan Dependensi semacam ini pada dasarnya merupakan hasil perkembangan dari sistem kapitalisme yang berawal dari sistem merkatilisme sampai dengan sistem kapitalisme global yang berlaku saat ini.
View All
Video
Jun 22, 2010
bangbangtut.flv [www.keepvid.com].mp4
album slank minoritas
Previous videos:
Dec 23
-
Duran Duran_Come Undone.flv
Dec 23
-
Duran Duran_View a Kill.flv
Oct 15
-
no milk today.flv
View All
Links
http://http//derapla
ngkahbiru.multiply.c
om
View All
Blog
Oct 15, 2008
sajak kontemplasi
Sendiri Sendiri diam Diam sendiri sepi Sendiri sepi sedih Sedih sendiri menyakitkan Sendiri sakit Sakit sendiri pahit Sendiri pahit obat Obat sendiri mahal...
more
Previous blog entries:
Jul 14
-
Haji Indonesia
Jul 14
-
Kembali ke UUD 1945 yang dijiwai oleh Piagam Jakarta
Jun 4
-
Sekolah Kelas Dua (Twede Klasse School)
View All
Music
Dec 23, 2009
New Music 12
Previous playlists:
Oct 21
-
New Music 11
Jul 10
-
New Music 9
May 12
-
New Music 8
View All
Guestbook
For:
Add a comment to this guestbook, for everyone
Send
attaubah60
a personal message
Subject:
-
Quote original message
petittemode
wrote on Sep 20, '11
love quotes
♥
tumblr themes
♥
cute quotes
brecs
wrote on Oct 25, '09
terimakasih atas invitasinya... :)
hendarunulis
wrote on Nov 16, '08
ndry,,
View All 3 Comments
attaubah60
Hendry
Personal Message
Report Abuse
placeholder